Love In Silence
Love In Silence 💕
Semua berawal dari
ketidaksengajaan itu,Nayla yang tanpa sengaja menjatuhkan hatinya kepada
seseorang yang baru ia kenal. Naylatidak pernah berpikir untuk mempunyai rasa
kepadanya namun Allah berkehendak lain.
Fahri lelaki yang tanpa sadar
merubah hidupnya yang sempat kelam dan penuh dengan kesedihan. Sejak pisah
dengan mantan kekasihnya ia merasa sangat sulit membuka hati untuk orang lain,
sulit untuk jatuh cinta dengan pria lain selain mantannya itu.
Namun semua berubah sejak ia
tak sengaja bertatap muka dengan Fahri saat bertemu di koridor sekolah, untuk
pertama kali ia melihatnya, saat itu tidak ada sedikitpun terbesit di hatinya
untuk mencintai Fahri yang ia pikirkan.
Sejak
saat itu Nayla mulai mengenal Fahri yang sekarang sebagai Kakak kelas di
sekolahnya, Saat itu perasaan belum muncul di hati Nayla, ia masih merasakan
pedihnya masa lalu yang telah memberinya luka namun tak berdarah.
Hingga suatu ketika Naylamendengar cerita mengenai Fahri dan agama yang Fahri
miliki. Ia sempat merasa terpukau akan cerita dari salah seorang teman
kelasnya.
Sejak saat itu perlahan Nayla
mulai memperhatikan ke arah Fahri terkadang ia mencuri pandangan untuk melihat
tingkah Fahri sesekali ia tersenyum melihat tingkah konyol itu.
Hari-hari ia lalui dengan terus
memperhatikannya, terlalu sering ia memperhatikannya membuat Nayla
mengaguminya, hingga tanpa sadar muncul rasa yang awalnya tak dimengerti itu
apa, dan tak tahu pasti sejak kapan rasa itu menghuni hatinya, rasa yang mampu
membuatnya sakit saat ia melihatnya dengan wanita lain, hingga akhirnya Nayla
meyakinkan hati apakah ia benar-benar telah jatuh hati padanya, dan ternyata
benar ia jatuh cinta dengannya.
“Astaghfirullah” sahutnya dengan meneteskan air mata.
Ia kembali mengingat rasa sakitnya di masa lalu ia tidak ingin
hatinya kembali terluka, dan ia tidak ingin cintanya merusak iman dan ketakwaannya.
“Nayla? Kamu kenapa?” ujar Maudy sahabatnya
“Aku Gpp kok”Sahutnya sambil tersenyum
Lagi-lagi ia harus berbohong
untuk menyembunyikan perasaannya, ia tidak berani untuk bicara dengan orang
lain mengenai hatinya, dalam sujud ia selalu berserah diri, bercerita dan
bersimpuh meminta petunjuk Kepada Allah akan rasanya dan tanpa sadar air mata
itu selalu keluar saat ia menyebut nama Fahri dalam doanya
Tidak banyak yang dipinta ia
hanya minta agar tidak jatuh di hati yang salah dan agar cinta ini tidak merusak
iman dan takwanya.
***
Mencintai
dalam diam sama dengan berharap tanpa usaha, mencintai dengan mencukupkan
dengan doa, tidak bedanya pasrah dan rela sebelum pernah mencoba melakukannya.
Mencintai dalam diam memang menyakitkan tetapi dalam diam merupakan salah satu
contoh cinta yang tulus karena dalam diam rela berkorban demi kebahagiaan orang
yang dicintai. Dan bagaimana aku bisa bertahan sejauh ini mencintai dalam diam
dan hanya aku yang merasakan menunggu yang tidak pasti itu lelah.
“Dorrr”
“Astaghfirullah,
Allahu Akbar” teriaku karena kaget
“Kamu
lagi ngapain di Taman sendirian?” tanya
Maudy
Ya
memang sekarang sedang jam istirahat dan Nayla memilih taman belakang sekolah
untuk menyendiri menulis kalimat-kalimat yang dapat mengungkapkan perasaannya.
“Pasti
kamu lagi nulis kalimat yang pas dengan perasaan kamu kan?seperti biasanya
hehe” tanya Maudy
“Hm
iya seperti biasanya karena sudah kebiasaan aku menulis”jawab Nayla
Kring... Kring.... Bel berbunyi
“Yuk
kita ke kelas” kata Maudy sambil menarik tangan Nayla
“Tunggu
pulpenku belum kebawa soalnya jatuh kamu duluan aja nanti aku nyusul” kataku
sambil melepaskan tanganku darinya
“oh
yaudah Nay aku duluan ya” sahut Maudy
Setelah
Maudy pamit ke kelas, Nayla langsung mengambil pulpennya yang sempat jatuh di
bawah kursi taman yang tadi di dudukinya.
Akhirnya
Nayla berjalan melewati koridor sekolah sendirian. Nayla hanya menunduk menuju
kelasnya dengan jalan yang tergesa-gesa.
Bugghhh!....
“ Aduh
maaf ya kak saya gak lihat” ujarku
“iya
kamu Gpp kan? sahutnya sambil memastikan keadaan Nayla
Suara
ini?Aku hafal sekali dengan suara ini, segera dia berdiri dan melihat wajahnya.
Ya dia Fahri laki-laki yang selama ini ia kagumi. Dia di depanku? Dia bicara
padaku? Pertemuan yang membuatku merasa canggung sekaligus senang.
“Hm
enghh aku Gpp kok maaf ya kalau aku jalan seperti tadi” ujarku dengan nada
canggung
“Yaudah
aku maafin lain kali kalo jalan jangan nunduk kayak tadi lagi ya”
“Iya
kak permisi” Dengan cepat aku berjalan meninggalkan Fahri
lagi-lagi jantung terasa seperti bedug lebaran rasa senang yang bercampur
takut.
***
Dunia
sedang enggan menampilkan penghiasnya. Di belahan mana pun tidak ada bintang,
bulan pun sama bersembunyi di balik kelabu malam. Langit gelap kemerahan,
sesekali kilat menerangkan langit dengan sekelebat cahaya disusul suara guruh.
Tinggal menunggu waktu langit menumpahkan bebannya.
Di
saat seperti ini, Nayla masih berkutat dengan laptopnya. Jemarinya menari di
atas keyboard denganbegitu cepat. Sebuah hot cokelat cukup untuk menemaninya
mengerjakan tugas yang harus di selesaikan malam ini.
Seiring
itu, waktu berlalu cepat Nayla memikirkan kejadian tadi bersama Fahri. Sungguh
ia bahagia tak tanggung rasanya, ini membuncah ada hal yang istimewa hari ini.
Pertemuan yang ia anggap awal yang buruk tapi berakhir baik. Ya kurang lebihnya
seperti itu Nayla bahagia, karena ia tak menemukan hal semacam itu di hidupnya.
Dalam
langkah pulang ia bergumam, andai ia dan Fahri bisa melangkahkan kaki ini
bersama menyongsong senja menuju surga kecil impian. Ah alangkah bahagianya
Nayla sungguh!... Tapi yang ia tahu sekarang Fahri adalah bulan yang telah
jarang ditemui di malam hari sebab mengecewakan. Terangnya hanya sesaat.
***
Kicauan
burung masih terdengar di sekitar wilayah sekolah. Banyak murid yang berjalan
santai untuk memasuki gerbang. Bel sekolah masih tiga puluh menit lagi, jadi
tidak masalah kalau berjalan santai menikmati pagi.
“Nayla....Nayla...”
Teriak Maudy
“Astaghfirullah
Maudy lain kali jangan teriak gitu dong kan malu diliatin emangnya kenapa sih
pake teriak gitu manggilnya”gerutu Nayla
Maudy
yang kini tertawa renyah karena melihat kekesalan Nayla terhadap kelakuannya
tadi yang memanggil nama Nayla bernada teriak.
“Hehe
maaf Nay cuman manggil buat bareng ke kelas” sahut Maudy cengengesan
“Kirain
kenapa yaudah ayo kita ke kelas bentar lagi bel bunyi”
“Siap
hayo hehe”
Mereka
tertawa dan melanjutkan perjalanan memasuki area sekolah, menunggu bel masuk
untuk mengikuti pelajaran seperti biasa.
Namun
Nayla terkesiap saat ia melewati koridor kelas ia bertemu dengan Fahri. Ada
yang berdetak cepat seketika dalam rongga dadanya. Ia sengaja tak mengambil
seribu langkah lebih memperhatikannya lebih dekat. Karena di sampingnya atau di
dekatnya. Nayla tak mau bersaing untuk terlihat secara langsung di mata Fahri.
Tentu saja Nayla merasa lebih leluasa bukan? Kepura-puraannya adalah karena
Nayla tak mau mengganggu kenyamanan Fahri. Karena bahasa tubuh yang kerap kali
bertingkah bodoh saat di dekatnya.
Tanpa
sengaja tunduk membawa Nayla membersamai langkah kaki Fahri, yang seketika
membuat gemetar tak karuan. Tentu saja Nayla malu dengan dirinya sendiri. Nayla
berjalan layaknya prajurit yang mengikuti titah raja, patuh pada tuannya.
Menunduk
sepanjang perjalanan yang hanya mengandalkan kejelian mata yang mencari jalan.
Ia tahu membersamainya membutuhkan energi besar dan kesabaran yang luar biasa
banyak. Dan tak sengaja Fahri menatap lekap mata Nayla, Sorot mata tajam Fahri
yang entah bermakna atau tidak. Sorot mata yang tersimpan di benak dan di
pertanyakan setiap pagi setelah kesadaran mulai kembali. Tatapan yang tajam
membuat Nayla makin mengaguminya. Ia perlu sebentar saja saat bola mata ia dan
Fahri saling bertemu dan tatapan yang menciptakan teduh.
“HeyNay
kamu kenapa kok ngeliatin kak Fahri gitu amat kamu suka ya sama dia” ujar Maudy
dengan nada mengejek
“eh
gak kok aku gak suka lagian aku juga gak kenal tuh sama dia” jawab Nayla dengan
wajah memerah dan panik
“hehe
yaudah ayo kita ke kelas bentar lagi bel bunyi”
“iya
ayo”
***
Nayla
dan Maudy sudah sampai di kelas mereka terkesiap ketika melihat pemandangan di
kelasnya yang hampir seluruh penghuni kelas 11 IPS 6 sudah tiba di sekolah,
membuat suasana kelas menjadi ramai.
Sekolah
memang menyenangkan tapi tidak dengan pelajarannya. Tidak pula dengan tugas dan
ulangan harian, apalagi jika keduanya terjadi dalam satu hari. Pasti sangat
menyebalkan, dan sialnya hari ini penghuni kelas 11 IPS 6 akan merasakan
keduanya. Mungkin itu alasan mereka datang pagi-pagi seperti ini, yakni untuk
menyontek berjamaah.
Itu
hal yang wajar sekalipun tidak dibenarkan dalam aturan agama ataupun tata
tertib sekolah. Namun tidak bisa dipungkiri lagi, itu bukan hal asing di
kalangan pelajar.
“Kamu
udah ngerjain tugasnya Nay” tanya Maudy
“udah
dy aku udah ngerjain kenapa emang” sahut Nayla
“oh
yaudah bagus deh kalo kamu udah ngerjain tugasnya soalnya kamu santai banget
gak kayak yang lainnya”
“Hehe
iya dy
“eh
btw aku perhatiin tadi kamu merhatiin kak Fahri lekat banget Nay kamu suka ya
sama dia? Kalo iya gapapa Nay kamu jujur aja sama aku, soalnya cara kamu
Mandang dia itu beda loh” Tanya Maudy serius
“Hm
harus jujur nih ya? Aku tidak tau perasaan ini mulai masuk ke rongga hati,
perasaan ini muncul begitu saja tanpa saling menyapa yang aku tau aku mulai
menjatuhkan hati saat tak sengajatatapan mata aku dan dia bertemu.Entahlah,
sampai detik ini aku masih belum memahami perihal perasaan dan begitu mendesak
untuk segera dikatakan.”
“Jadi
selama ini kamu mencintainya diam-diam dan memendam rindu sendirian, apa lagi
keahlianmu Nay"
"Menjaganya
dalam doa, agar selalu dalam penjagaan-Nya"
“Hm
Aku pikir gak ada salahnya justru itu cara mencintai seseorang paling mulia Nay
kamu harus percaya semua indah pada waktunya. Dan entah apa pun yang sedang kau hadapi sendirian, entah apa
pun yang sedang kau perjuangkan diam-diam, ada doa yang selalu kamu panjatkan
untuk dia Nay, Aku akan selalu dukung kamu” ujar Maudy
“Hm
iya dy aku akan selalu percaya skenario yang telah Allah buat”
“Nah
gitu dong, Semangat Nay!”
***
Pelajaran
demi pelajaran telah berlalu dan sebentar lagi waktunya bel sekolah tanda
pulang. Pelajaran hari membuat siapa pun merasa jenuh dan ingin cepat sekali
mengakhirinya.
Kring... Kring.... Bel berbunyi
"YES!"
Ujar semua murid yang ada di kelas
“Huft
akhirnya pulang sekolah juga ya Nay” Sahut Maudy
“Iya
dy aku mumet sama pelajaran hari ini hehe, Btw Aku malas sekali pulang ke
rumah, Rasanya aku bosan bagaimana kalau kita ke Cafe?”
“Boleh
juga sarannya Nay aku juga ingin memakan beberapa cake dan meminum kopi. Sudah
lama aku tidak berkunjung ke sana karena kita terlalu sibuk dengan urusan
sekolah”
“Iya
Bener juga yaudah ayo kita berangkat dy”
Tidak
membutuhkan waktu lama Nayla dan Maudy sampai di sebuah Mall di Tangerang kota.
Ya sekolah kami memang tempat strategis untuk mampir dahulu ke Mall ternama
ini, Tak jarang ada yang kabur karena mungkin bosan. Tapi tidak dengan Nayla
dan Maudy karena mereka tidak berani melakukan hal seperti itu.
Nayla
dan Maudy langsung memesan cake red valvet dan minumnya Coffee vanila late.
Setelah memesan, Nayla dan Maudy langsung duduk di pojokkanCafe ini. Cukup
bagus untuk melihat bagaimana keadaan jalanan Tangerang yang ramai ini.
Tidak
membutuhkan waktu yang lama pesanan Nayla dan Maudy sudah datang. Langsung saja
Nayla dan Maudy menyantap cake red valvet, rasanya tak berubah masih tetap
lezat seperti yang dibeli pertama kali disini.
“Masih
tetap enak ya Nay untung besok libur jadi malam ini aku tak perlu memikirkan
tugas atau hal lainnya yang bikin otak aku jenuh Huft” Sahut Maudy
“Hehe
iya dy benar banget, jadi kita juga bisa punya waktu luang disini untuk
merefreshing otak yang hampir bosan dengan pelajaran hari ini”
Kini
mereka saling diam dan berkutat dengan ponselnya masing-masing. Maudy yang
sedang asyik menonton beberapa video vlog di Youtube dan Nayla yang sedang
membuka aplikasi untuk menulis beberapa puisi di diary ponselnya.
Mencintaimu seperti merasakan red valvet kesukaanku, sangat manis
dan bikin aku ketagihan. Mencintaimu memang butuh perjuangan, namun aku kan
selalu bertahan agar kau juga membalas perasaanku ini. Ingin sekali rasanya aku
melihat wajahmu dan mengatakan “aku mencintaimu" tapi apa daya aku hanya
seorang perempuan yang tak pantas untuk mengungkapkan. Hanya pantas untuk
menunggu kepastian hatimu.
Setelah
membuat puisi yang sedang Nayla rasakan. Hatinya mencelos merasakan sesak yang
teramat menusuk. Namun segera Nayla menghapus air matanya yang hampir jatuh.
***
Kini
senja berganti malam, Bagi Nayla malam ini seperti malam-malam sebelumnya
adalah waktu yang sangat panjang disini. Nayla benci malam, seperti Nayla
membenci hari libur. Huft sebenarnya, mulai hari Sabtu Nayla tidak suka. Sebab
semakin sedikit waktu untuk bisa melihatnya. Lalu besok adalah minggu, libur
seharian tidak akan ada aktivitas curi-curi pandang.
Malam
ini air mata Nayla menderas jatuh karena pengabaian yang tak temu isyarat.
Dalam sekam diammu Tuan sungguh perempuan kaku seperti Nayla sedang tak
baik-baik saja.
Nayla
terbelah, jiwanya ibarat berada di tengah-tengah antara ikhlaskan dan
pertahankan. Nayla terhanyut dalam sedikit perasaan yang menikam secara
perlahan. Andai hening bisa berbicara, pasti ia akan protes kepada tuan dan
nona yang saling membatin namun tak sanggup menyapa. Masih tentang rindu, Nayla
seperti duduk di kursi pesakitan. Menanti sapa yang tak kunjung menyapa.
“Tuan,
kamu adalah penyebab aku benci hari libur dan kamu adalah penyemangat hari-hari
rumitku, biar sajalah begini, tetap tenang. Biar rindu-rindu ini ku ikat dengan
doa” Gumam Nayla dalam lamunannya.
***
malam harinya ia kembali terbangun dari
tidurnya,malam di saat semua orang tertidur
pulas Nayla terbangun karena bunyi dering ponselnya yang sengaja ia pasang
tepat jam dua malam, Nayla terbangun dan langsung ke kamar mandi untuk
mengambil air wudhu setelah itu Nayla melanjutkan Shalat malam yaitu Shalat
tahajud setelah selesai ShalatNayla mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Dan
lagi-lagi nama Fahrilah yang selalu
Disebut selain kedua orang tuanya “Ya Allah, dia adalah pria yang kuinginkan
selama ini aku ingin dia selalu ada di sampingku, aku ingin dia menjadi tempat
bersandarku selain kedua orang tuaku. Kutitipkan dia padamu ya Allah dan tolong
jagakan dia untukku. Amin ya Allah”.
“Kamu
adalah nama yang selalu aku ceritakan Kepada Sang maha cinta, merayu-rayu
kepada Tuhan agar kamu menjadikan aku dan kamu sebagai pasangan kelak waktu
yang sudah ditetapkan. Selalu ada cerita dibalik namamu. Aku diam dan tak
sanggup memahami ternyata ada cinta yang tak harus memiliki, meski telah ku
ikat dengan hati sadarku kini hanya semua alibi. Aku seseorang yang
mengagumimu, seseorang yang sudah lancang melangitkan namamu dan aku ingin
namamu dan namaku tertulis dilangit. Biarlah
hanya Allah dan aku yang tau semua ini, Aku hanya bisa melihatmu dibalik
hembusan anginku harap engkau tahu semua itu” Gumam Nayla seusai Shalat.
***
Matahari pagi datang kembali
dan semua orang sedang sibuk menjalani aktivitasnya begitu juga dengan Nayla,
Nayla sedang sibuk merapikan rumah setelah selesai merapikan rumah siang
harinya Nayla berniat untuk membeli beberapa novel terbaru di toko buku.
Nayla
berangkat ke toko buku dengan menaik Angkutan kota, tak perlu waktu lama Nayla
sudah sampai di toko buku yang tak cukup jauh dari rumahnya. Saat sedang
memilih beberapa novel yang ia inginkan matanya tak sengaja melihat Fahri, hati
Nayla terasa kaget sekaligus senang entah apa ia dan Fahri bisa tak sengaja
berasa di tempat yang sama seperti saat ini.
Rasa
yang tak pernah tau cara menyapa. Rasa yang kian tumbuh serasa hampa. Tanpa
dikembalikan Tuannya. Percayalah, membunuh rasaku tak semudah Tuan yang selalu
mengabaikanku. Ini tidak adil Tuan, ada rasa tak berani menyapa di ruang yang
sama tapi aku seolah-olah tak punya rasa bertindak biasa ataupun kau yang tak
pernah merasa.
Aku
lelah tuan, sesekali lihat aku, jemput aku di antara barisan tanpa dirasa ini.
Aku disini menunggumu. Aku sakit, Tuan jika kau tak punya yang sama denganku.
Ku harap kau matikan saja rasa ini. Menyulitkan ku berkonsentrasi dalam segala
hal, karena rasa dan mata yang selalu berlarian menujumu.
“Astaghfirullah”
sahut Nayla dalam lamunannya
Setelah
Nayla mendapatkan beberapa buku yang ia inginkan, Nayla segera menuju kasir
untuk membayar semuanya. Tepat di saat Nayla ingin Mengantri Fahri juga
menghampiri kasir untuk membayar buku yang telah Fahri beli.
Perasaan
Nayla gugup dan canggung sekali bisa berada di dekat Fahri, dan sepertinya
Fahri memerhatikan Nayla karena terlihat dari gerak geriknya Fahri hanya ingin memastikan apakah ia
mengenal Nayla atau tidak. Entahlah Nayla ragu untuk menatap mata Fahri karena
ia terlalu pemalu.
Di
perjalanan pulang Nayla mampir dulu ke sebuah taman di pusat kota untuk
menghilangkan penat. Nayla duduk di bangku taman sambil membaca salah satu buku
yang ia beli.
“Hey
aku boleh duduk di sini kan” ucap seorang lelaki
Suara
ini Nayla tau betul ini suara siapa? Oh tuhan apalagi ini.
“Eh Hm iya boleh ini kan tempat umun” jawab Nayla dengan nada canggung
“Baik terima kasih,
sepertinya kita pernah bertemu ya? Kamu satu sekolah denganku bukan? Eh kamu
juga yang waktu itu jatuh karena jalan menunduk dan bertemu aku kan?” sahut
lelaki itu panjang lebar
“enghhh...
iya kak aku yang waktu itu jatuh karena tersenggol kakak”
“Oalah
pantes pas di toko buku tadi aku seperti pernah melihatmu tapi aku lupa
dimananya hehe ternyata kita satu sekolah ya”
“hehe
iya Kak”
***
Manis
sekali, seperti Tuan yang manis. Duduk bersejajaran denganmu curi-curi pandang
tatapan hingga selesai temu tanpa perjumpaan itu. Itu yang kita lakukan tadi
tanpa rencana. Kita berada dalam dimensi yang sama. Duduk berhadapan tak saling
menatap hanya saja curi-curi pandang tanpa berani menatap.
Bersejajaran
denganmu adalah hal yang tidak aku sengajai, semesta seolah memihak padaku, aku
yang duduk terlebih dahulu, kemudian kamu yang menyempatkan posisi duduk tepat
berhadapan denganku. Aku suka, meski dengan jantung yang berkejaran saat
bertentangan menatapmu
“Huft
sepertinya perasaanku semakin lama semakin tak terkendalikan apalagi setelah
tadi ia menyapaku duluan Ya Allah aku harus apa” ucap Nayla di tengah
lamunannya
***
Hari berganti hari semakin lama
perasaan itu semakin tumbuh, Nayla selalu bertemu dengan Fahri ketika Shalat
Zuhur di masjid sekolahnya bahkan saat Nayla berdoa di tengah Shalatnya ia
merasa ada seorang lelaki yang diam-diam memperhatikan doanya, namun ia tidak
tahu siapa lelaki itu, yang ia tahu lelaki itu memakai seragam sekolah yang
sama.
Nayla yang terlihat cuek ketika bertemu
dengan Fahri dan seperti tidak ada perasaan apa-apa dibalas dengan sifat cuek
Fahru saat bertemu dengan Nayla
Kadang sorot mata mereka berdua seperti
ingin menegur namun saling malu dan kalah dengan rasa pura-pura tidak peduli
Fahri berada di depan Nayla, namun saat Fahri menoleh ke arah Nayla ia seolah membuang pandangannya, begitu juga dengan Fahri yang membuang pandangan ketika Nayla menoleh ke hadapannya. Mereka seperti terlihat munafik namun itulah cara untuk menjaga hati agar tidak jatuh terlalu dalam dan tidak timbul fitnah saat berpandangan
Sesekali Nayla ingin sekali memberanikan
diri untuk menegurnya namun rasa itu kalah dengan rasa takut dan malunya malu
kepada Allah karna memandang sesuatu yang belum halal baginya.
Sampai ketika tiba saatnya anti merasakan
dadanya sesak dan hancur ketika melihatnya bersama dengan wanita lain yang
diboncengnya pulang. Maudy yang mulai mengetahui bahwa Nayla terlihat sangat
sakit melihatnya mencoba menenangkan dengan menghibur menggunakan sebuah
lelucon dan itu cukup untuk membuat Nayla kembali tertawa.
Nayla meluapkan semua
rasa sedihnya kepada sahabat kecilnya itu, ia merasa cintanya mulai tumbuh
semakin dalam ia memohon, batinnya menjerit agar perasaan itu segera hilang
namun lagi-lagi harapan itu kembali muncul dan suasana sedih itu kembali
bahagia saat ia melihat Fahri tersenyum menegurnya.
“semangat dek” tegurnya dengan berjalan
melewati Nayla yang berdiri di depan pintu
Seketika sapaan itu dan senyum itu kembali
membuat Nayla merasa bahagia, wajah teduhnya yang penuh dengan keimanan di
matanya itu membuat Nayla kembali tersadar bahwa dialah orangnya orang yang
mampu mengobati luka di hati.
Kembali di jam Shalat. Nayla selalu berdoa dan memohon menyebut namanya dalam setiap doa, namun secara yang tanpa disengaja pula saat ia keluar dari Mushola Fahri berada di depan mushola tengah mengenakan sepatu hitam putih miliknya, lagi-lagi Nayla mengalihkan pandangan berusaha agar tidak melihatnya, namun Nayla sadar Fahri memperhatikan langkah kakinya berjalan namun ia tetap diam tanpa menegur sepatah kata pun kepada Nayla. Selalu seperti itu yang terjadi antara mereka jika salah satunya melihat maka satunya akan pura-pura tidak melihat, Hari terus berganti kini Nayla mulai merasa cukup untuk memendam rasanya. Yaitu cinta dalam diamnya harus berakhir saat mengetahui cerita tentang kisah cinta Fahri sebelumnya. Ia sadar bahwa ia jatuh cinta kepada orang yang mencintai orang lain. Hatinya hancur, hatinya pedih air matanya mengucur dengan deras saat bersujud di hadapan Ilahi, rasa sakit yang dialaminya kini lengkap sudah. Saat itu ia berpikir untuk melupakan perasaan kepada Fahri
“Ya muqolibal QuluubTsabit Qolbi Alaa diinii” wahai zat yang maha
membolak balikan hati teguhkan aku dalam agamamu, hilangkanlah cinta ini jika
aku memang bukan untuknya, namun pertahankan cinta ini jika memang dia
orangnya” sahut Nayla yang merintih dalam doanya.
Namun ternyata Allah menjawab doa
NaylaAllah berkehendak lain Allah tidak menghilangkan rasa suka itu, bahkan
Allah memberinya penawar untuk tidak merasa sakit, ia kembali dekat dengan
Fahri mengobrol berdua dan sekedar bercerita bersama.
Allah mendekatkan kembali Nayla dan Fahri
dan mengobati luka itu kembali.
***
Mungkin perasaan ini akan terus kupendam,
entah sampai kapan akan kupendam untuk selalu mencintaimu. Sepertinya takdir
ini membuat aku tidak akan pernah untuk mendapatkanmu, hanya dapat mengagumimu.
Tidak dapat menjadi prioritas kamu, tidak dapat menjadi orang yang kamu sayangi
melebihi teman dan sahabat, tidak dapat menggenggam jemari-jemari panjangmu
yang aku idamkan itu.Tetapi aku terlalu takut untuk mengungkapkan perasaan ini,
aku takut mengambil risiko yang fatal yaitu kamu akan menjauhiku. Kamu akan
merasa tidak tenang saat denganku. Itulah sebabnya perasaan cinta ini selalu
kupendam. Cukup aku yang tau, kamu tidak perlu tau, karena tidak ada gunanya
juga memberitahu seseorang yang kamu cintai tapi tidak akan pernah menyatu. Aku
tidak tahu akan sampai kapan hati ini terus memilihmu.
Berlebihan sekali memang untuk mencintai
seseorang secara mendalam dan sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa. Aku ingin
sekali mengetahui bisikan hatimu, aku ingin sekali mendapatkan bisikan cinta
dari hatimu yang tulus kepadaku. Tapi aku rasa itu semua hanya angan-angan
semata. Biarkan saja, biarkan segala rasa ini
terpendam untukmu seseorang yang aku kagumi. Biarkan hanya
aku yang rasa, kamu tidak perlu. Biarkan aku menderita seperti ini, mencintai
sepihak tanpa pernah bisa memiliki.
Setidaknya kita masih dekat. Kita masih dapat saling bercerita.
Kita masih dapat saling bertemu.
Meskipun perasaanmu padaku tak lebih dari
sekedar teman saja.
-Nayla-
Komentar
Posting Komentar