Cerpen Lihat Aku!
Lihat
Aku !
Karya
Pebriani J. Hosti
Suara
ayam berkumandang, membangunkan remaja yang sedang tertidur pulas. Ia menguap
sejenak, untuk mendinginkan otaknya. Ia pun bangun, dan terdiam sejenak.
Namanya Rasya Natasha panggilannya Asya, seorang remaja yang akan menduduki
masa SMA. Sapaan hangat pun dilontarkan olehnya untuk Bi Minah.
"Sampai
kapan Bi?"
"Sabar ya
Sya, tunggu waktu saja"
***
Acara pembukaan MPLS pun di mulai oleh Kepala Sekolah,
berperawakan besar, tinggi, dan berkumis.Setelah acara pembukaan selesai,
seluruh murid baru, kembali ke kelas yang sudah ditentukan. Saat
ini Asya berada di kelas 10.3. Kaka
OSIS pun memberi materi, lewat presentasi, dan
kami pun mencatat hal yang menurut kami penting. MPLS berjalan dengan lancar
dan berlangsung selama 3 hari.
***
Kantin.
"Pesen apa?
Biar aku pesenin" tanya Dion pada Asya."Em, samain aja"
Dion pun pergi untuk membelinya.Saat ini kepala Asya sangatlah pusing, Asya hanya duduk dan melihat sekeliling kantin yang begitu ramai, dan memijat pelipisnya untuk meredakan sakitnya. Tak lama Dion pun datang. Kami pun menikmati makanan, dan berbincang.
***
Asya langsung
membuka pagar nan tinggi itu dan masuk kedalam. Di lihatnya rumah besar ini
seperti tak berpenghuni. Ah, ya, Asya sudah terbiasa dengan ini. Bi Minah
datang menyambutnya dengan tersenyum. Asya sudah menganggap
Bi Minah seperti ibu sendiri, hanya beliau
yang selalu menemaninya. Setelah Asya membersihkan tubuh, Asya dan Bi Minah
makan bersama dengan menikmatinya, sesekali
berbincang tentang sekolahnya. Setelah makan, Bi Minah memberikan lima bungkus
berwarna biru. Asya pun segera meminumnya dan berlalu ke kamarnya, setelah itu
ia pun terlelap di pulau kapuk miliknya.
***
Hari-hari telah
berlalu, dan tak terasa sudah 4 bulan Asya bersekolah disini.
Ia pun
sudah menemukan banyak teman disini.
Sekarang ini ia
berada di UKS bersama Putri dan Dion, teman dekatnya di SMA ini. Mereka bingung, kenapa akhir- akhir ini Rasya sering sekali pingsan. Tak lama Rasya pun bangun, dan di ambilkan minum oleh Putri.
"udah enakan belum?" ucap Dion. Dibalas anggukan oleh Rasya.
"Coba kamu
cerita sama kita Ca, ada apa sebenernya sama kamu?" ucap Putri yang mengelus punggung ku.
Flasback
on
Ruang
Keluarga, malam hari.
"Pah,
Mah aku ingin memberitahu kalian sesuatu" ucap nya,berhati-hati. Dan
mereka hanya menatap nya bermaksud 'apa'.
"Aku
sakit, Aku mau mama dan papa, ada waktu untuk Asya, Aku ingin menghabiskan
wa....waktu dengan kalian, Aku tau itu sulit, tapi apakah kalian tidak bisa
menemani setidaknya 1 hari saja? Aku mempunyai orang tua, tetapi kenapa Aku
merasa tidak memiliki orang tua? Asya mohon pah mah" ucap nya, yang tidak
bisamenahan tangisan dan ketakutannya, dan Asya bersedekap dada, berlutut dan
meminta mohon. Ayahnya (Bram) menyuruhnya untuk bangun tetapi Asya masih setia
dengan tempatnya.
"Kami
tidak bisa Rasya, jika kamu sakit silahkan berobat saja, dan minta temani Bi
Minah saja, kami akan memberi biaya rumah sakit kepada mu, kami sangat sibuk
Rasya, kami melakukan ini semua hanya untuk kamu" ucap ibunya (Rana) dengan
menghapus air matanya. Mereka kembali berdiri.
"ITU
HANYA UNTUK KALIANN.... BUKAN UNTUK ASYA, KALIAN LEBIH CINTA UANG DARI PADA
ANAK KALIAN SENDIRI? ASYA GA BUTUH UANG ITU, ASYA MAU ORANG TUA, ORANG TUA,
LIHAT AKU!! mah pah..
Hiksss"
ucap ku bangkit berdiri, dan menangis sejadi-jadinya.
Plak..
Pipi
ini terasa perih. Yah beliau ayah Asya (Bram). Apakah ada orang tua yang
menampar anak nya?. Kepala nya mulai pening."Lihat aku mah pah, aku
mohon". Mereka tidak mengubris . Asya menangis sejadi-jadinya. Bi Minah
sedari tadi berada di dapur, dan tak tega melihat nya, dan langsung memeluknya,
Asya menangis di pelukan Bi Minah. Tak lama matanya memburam dan gelap...
Flasback
off
Mereka terlihat
marah dan kesal. Mereka membujuk Asya untuk tetap mengikuti Cemotherapy
tetapi ia menolaknya. Terus-menerus mereka membujuknya, Asya pun luluh dan
mengikutinya.
***
2
November.....Rumah
Sakit.
Ini
sudah ke-30 kali, ia melakukan Cemotheraphy, hasilnya tetap sama, bahkan
kanker yang menjalar di tubuhnya meningkat, dokter menyarankannya untuk
melakukan pengobatan di luar negeri, Jerman. Asya
hanya mengiyakan saja. Biaya dari mana ia? Tidak mungkin Asya meminta mereka,
pasti tidak akan percaya. Saat ini Asyadirawat inap dan dipakaikan oksigen di
hidungnya, kata dokter agar lebih sering dokter mengecek dirinya.
"Sya, sori
aku ga bisa lama-lama, kalo rumah kita deket pasti deh tiap hari kesini, tapi
aku usahain minggu depan kita kesini, hmm.. Minggu deh kayanya kita bisa"
ucap Oci teman dekat Asya sewaktu SMP.
"Iya Aku
tunggu ya, tapi kalo kalian dateng pas Asya tidur, tolong jangan di ganggu ya,
jangan bangunin Aku, jangan berisik juga jadi orang, kalian kan suka banget
gangguin Asya" ucap nya dengan mulut yang dimajukan. Alhasil ia mendapat
cubitan dari Widya."Ih itu pipi, udah kaya ikan badut" ucap
Widya.
Semua orang pun
tertawa. Mereka bergegas dan berpamitan kepada Bi Minah untuk pulang.
***
Flasback
On
PT.
MUTIARA RASYA
"
saya ingin bertemu Pak Bram dan Ibu Nara, ada?" tanya seorang pria muda
dengandatar dan dingin kepada resepsionis.
"Maaf
adik siapa, ada kepentingan apa, Adik ingin bertemu CEO disini?" tanya
resepsionist itu.
"Anda
tidak perlu tahu. Saya ingin bertemu mereka, saya teman dari anak mereka"
Tetapi
Resepsonist itu tetap keukeh. Dan terjadilah adu mulut antara keduanya, satpam
pun menarik pria itu, ia pun memberontak. Dan terjadilah keributan. Hingga
teriakan seseorang membuat aksi mereka terhenti.
"Ini
pak, adik ini ingin bertemu bapak, saya sudah melarangnya, tetapi ia keras
kepala". "OM BRAM saya
ingin berbicara. Empat.mata. dengan anda.". Bram pun menyetujuinya. Mereka
berjalan bersama menuju ruang kerja. Bram menawarkan duduk kepadanya, tetapi ia
menolaknya.
"Saya
ingin to the point. Saya sedikit curiga, apakah om dan tante ini memiliki hati
atau tidak? Apakah om dan tante, menikah hanya untuk pekerjaan? Dan apa
manfaatnya kalian memiliki Anak tetapi DITELANTARKAN" ucap pria itu murka.
"Apa
maksud kamu hah, kamu tidak diajarkan sopan santun ya? Anak tidak punya
pikiran." ucap Nara.
Ya
kedua orang tua Rasya bekerja dalam satu ruangan.
"Hahahah, kalo iya emang kenapa? Kaya pernah ngedidik anak aja. Justru disini KALIANLAH YANG TIDAK PUNYA PIKIRAN DAN HATI, kalian tau anak kalian ada dimana? Kalian tau dia sakit atau tidak? Ya ga bakal taulah. Hahaha. Jadi disini saya akan memberi tahu keadaan anak anda wahai ORANG TUA TAK BERGUNA. Anak anda di rumah sakit sekarang, dia menderita selama 2 tahun lebih dengan penyakitnya, dan sekarang sudah stadium akhir, anda mau tau sakitnya apa? KANKER LEUKIMIA. Puas anda buat ia menangis? Sekarang sudah ke-4 hari, 3 hari ke depan Asya tidak akan menjadi anak kalian lagi, kalian tidak akan pernah bertemu lagi. Ah sudahlah.
Dan saya mohon jangan buat air mata buaya kalian itu.
Saya pulang makasih." jelas pria itu yang tidak bisa menahan emosinya,
saat ini ia sangat marah. Karna ia peduli dengan Rasya. Suara seseorang
memberhentikan langkahnya.
"Dion....
Tunggu.... Tante mohon kasih ta...tau dimana Rasya" ucap Nara, dengan
menangis. Ya pria muda itu adalah Dion."Apa peduli anda?" tanya Dion
yang tidak membalikkan badannya.
"Saya
mohon Nak, beritahu kami, dimana anak kami" mohon Bram dengan menangis
juga.'Anak?' batin Dion. Ia mengela nafas kasar.
"Ikuti
saya"
Flasback
Off.
***
Dua hari sudah ia
ditemani kedua orangtuanya. Asya ingin berlama-lama seperti ini tapi itu tidak
mungkin. Ia bertanya-tanya, apakah mereka tau keadaannya saat ini? Ah lebih
baik tidak usah diberi tahu. Saat ini mereka ada di taman,
menghirup udara segar, dan sesekali berfoto
bersama."Mah pah, besok ulang tahun aku loh, aku mau minta permintaan
boleh?"
"Apa
sayang? Pasti papa akan turuti?" tanya Bram, dengan mengelus rambut
anaknya yang mulai menipis. Ditangannya terdapat rambut
rontok, tanpa Asya sadari, Bram memasukkan rambut itu ke saku bajunya.
"kalian harus
janji, tidak ada tangis-tangisan, aku mohon menangislah jika itu bahagia,
simpan air mata papa dan mama untuk kebahagian, jangan pakai itu untuk
kesedihan, dan selalu jaga kesehatan jangan capek kerja mulu, asya ga mau
kalian sakit. Dan ada hadiah untuk papa dan mama di lemari asya. Mulai besok kasih
uang jajan Asya sama Bi Minah dan anaknya ya, soalnya mereka selalu nemenin
asya, dan asya punya cita-cita buat sekolahuntuk orang tak mampu, biar anaknya
Bi Minah sekolah mah pah, dan tolong rawat Rina seperti kalian merawat Asya,
ok. Eh kok mama papa nangis sih, aduhhh"
ucapnya panjang lebar, dengan menampilkan senyum manis nya. Ia terkejut melihat
kedua orang tuanya menangis. Ia langsung mengelap air mata kedua orang tuanya
itu.
"Sayang
dengerin mama sama papa, Semua yang kamu mau akan mama sama papa kabulin.
Asalkan kamu sembuh dan besok kita mulai mengabulkannya, gimana setuju?"
"Dan papa
akan membuat sekolah itu, dengan nama kamu, papa juga janji akan jaga
kesehatan" ucap Bram dengan mencubit pelan pipinya yang pucat. Asya hanya
tersenyum manis kepada kedua orang tuanya. Ia merasa ngantuk sekali. Asya
meminta untuk tidur di pangkuan Rana, sang ibupun mengiyakan.
***
Minggu...
Hari ulang tahun Natasha Rasya yang ke 16 th.
(Bunyi pendeteksi jantung).
"Dokter,
bagaimana? Apa saya harus membawanya ke luar negeri sekarang?"
"Maaf pak
bram anda telat, kondisi putri anda saat ini kritis, jika ia dibawa sekarang,
itu semakin membuat keadaanya memburuk"
"Jadi gimana
dok? Apa yang harus dilakukan, saya akan melakukan apapun jika itu bisa
menyelamatkannya" ucap Bram dengan memegang erat jas putih itu.
"Kita berdoa
saja, kalian bisa masuk, sepertinya Asya ingin di temani, tetapi memakai ini
dulu" ucap dokter itu, dan memberikan pakaian untuk seseorang yang ingin
memasuki ruang ICU. Mereka semua masuk. Ada teman-teman Asya, orang tua
Asya, Bi minah dan anaknya Rina. Semua orang menangis dan mengucapkan kata demi
kata, untuk membangunkan seseorang yang sedang bermimpi.
"Ca, kita
nanti main The Sim lagi yuk, kan sekolah buatan Caca belum jadi, kan ga
boleh nanggung-nanggung kerjaan" ucap Putri, menangis. "Pia udah move on
kok dari dia ca, ayo ca bangun dong" ucap Pia menangis. "Ka caca, ini lina
loh ka, lina bawa puding loh kak, tau ga lasanya apa? Cokelat loh ka, kaka
tidul nya jangan lama-lama, nanti kita belajal baleng yah, lina bawa buku
gambar loh" ucap rina dengan memainkan jemari Asya. Dengan nada cadelnya.
Alam bawah sadar....
"Rasyaaaaaa....." "Iya siapa ya?"
tanya Asya berteriak.
"Sini
sayang, kita kumpul disini dulu" ucap seseorang.
"Asya
lagi asik main nih" jawab nya yang masih bermain ayunan putih itu.
"Sebentar aja rasya, mama mohon". Ia tak mengubris, karena ia melihat ada seseorang yang datang, dan membuat matanya silau, dan ternyat ia adalah nenek dari Asya. Keduanya melepas rindu yang teramat dalam. Nenek itu pun bertanya pada Asya, apakah Asya ikut dengannya atau ikut tetap disini. Asya bimbang, disatu sisi ia rindu dengan neneknya , tetapi disisi lain Asya ingin disini bersama orangtunya, untuk merawat mereka, sampai akhir hayat.
"sayang, disana banyak yang nunggu kamu, masa
depan kamu ada di sana juga, oma tau kamu sakit hati sama orang tua mu, tapi
Asya yang oma kenal ia selalu memaafkan
kesalahan orang lain, sebesar apapun itu" ucap nenek itu mengelus
rambut halus Asya. Sesungguhnya Asya tak pernah marah sedikitpun kepada kedua
orang tuanya, hanya saja ia sedikit kecewa. Tetapi
ia sudah melupakkan semuanya. Apakah menurut kalian definisi kecewa dengan
marah itu sama?.
"oma
tau kamu bingung, nanti kamu pikirkan lagi keputusanmu itu. Sekarang kamu ke
sana dulu, kan di panggil tadi sama mama, ayo kesana, jadi anak nurut".
Asya menurutinya, dan masuk kedalam.
Dunia nyata.
Asya membuka matanya, semua orang mengelilinginya dengan air mata yang mengalir. Ia diam seribu bahasa tidak tahu-menahu dengan keadaan disini, dibenaknya sekarang mengapa mereka menangis? Apa yang mereka tangisi? Dan kenapa ia dipasang alat penunjang hidup diseluruh tubuhnya? Seingatnya ia hanya tertidur sebentar dan bermimpi indah, itupun ia tak ingat mimpi apa ?. Tak lama seseorang berjas putih datang untuk memeriksa keadaanya, setelah selesai di periksa Asya berbincang oleh kedua orang tuanya, teman-teman, Bi Minah dan anaknya Rina. Walaupun suara nya masih melemah. Jujur ia tidak suka semua ini, menggunakan alat Rumah Sakit ini, dan sangat tak nyaman.Tak lama Asya merasa mengantuk berat ia sangat ingin tidur.
“mah, pah, Aku ngantuk,
Aku tidur ya” ucapnya kepada orangtuanya. Mereka pun mengiyakan permintaannya.
Tak lama ia pun terlelap dan memasuki alam bawah sadarnya.
***
Semua orang menangis, mengelilingi batu nisan itu, hingga membuat seorang wanita paru baya itu pingsan. Batu Nisan itu bernama Natasha Rasya . ***

***
“Sekuat-kuat
seseorang pasti dia pernah
menangis, dan orang-orang yang membuatnya menangis adalah orang yang paling
disayanginya.”
Komentar
Posting Komentar