Cinta Yang Tak Terbalas

Cinta Yang Tak Terbalas

Matahari mulai terbit menyinari cela-cela jendela kamarku yang sedikit terbuka, akupun terbangun dan segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, jam sudah menunjukan pukul 07.00 akupun segera menuju ke sekolah. Diperjalanan banyak kendaraan yang berlalu lalang memadati jalan, sesampainya di sekolah aku menelusuri koridor kelas yang sudah dipadati oleh siswa/i SMAN 19 Kab. Tangerang, setelah melewati koridor bawah yang dipadati oleh siswa/i beda halnya dengan di koridor atas yang sangat sepi dan sunyi tak ada seorangpun yang berada di koridor. Sampailah aku dikelasku akupun bergegas untuk menaruh tasku, ketika aku duduk ada seorang pria yang menghampiriku dan berbicara tentang film yang memang aku suka.

“Wid, mau tau gak? Ada film baru nihh.” Cakap pria tersebut

“Apa sih vik,baru juga duduk,wihh mana mau dong.” Jawabku dengan nada penasaran, pria itu adalah teman sekelasku dia yah bisa dibilang pecinta film Avengers atau action lainya namanya Muhamad Vicky Alfarizi biasa dipanggil Vicky.

“Istirahat pertama aja nontonnya, kalau sekarang mah kagak bakalan keburu percaya deh.”Jawab Vicky saat dia tau kalau bel akan segera berbunyi. Bel pun berbunyi dan semua murid duduk dengan tenang untuk menunggu guru yang datang. “Iyalah, masa iya mau nonton sekarang Vik udah bel juga,yaudah nanti pas istirahat aja.” jawabku dengan menaikan alis berkali-kali.

***

Keesokan harinya pada pukul 10.05 Aku,Rully,Vicky,Alpin,Herdian,Pebri,Ipitdan Ayu pergi kekantin, saat dikantin nampak sosok seorang pria yang sedang duduk manis sambil memakan sesuatu.“Eh peb mau nanya deh.” tanyaku penasaran “Iya,wahh mau nanya apa widya.” jawab pebri denganberbisik dan sedikit menggodaku “Hemm,itu siapa dah yang lagi duduk di depan kita itu?.” jawabku dengan nada sedikit malu-malu “Oh itu mah anak Ipa wid,ngape jangan-jangan kamu suka yah? Jujur aja deh.” balas Pebri, kalimat itu pun sontak membuatku malu bukan main karena Pebri sudah mengetahuinya.

“Tau ah yuk guys balik ke kelas aja jadi gak ada selera lagi buat jajan.” Aku berdiri dan meraih tangan Ayu dan langsung bergegas untuk pergi ke kelas. Ketika di kelas suasana tiba-tiba menjadi ribut ketika aku dan Ayu memasuki ruangan.

Page 114

“Tadi kamu kenapa sih widya, maen pergi gitu aja.” tanya Rully dengan heran. Dia Rully temanku dia suka banget ngambilin barang atau makan orang tapi bisa terbilang yah usil juga sih.

“Yah gapapa Rul,pengen tahu banget sih urusan hidup orang.” jawabku dengan kesal.

“Oh yaudah sih biasa aja,ehh boleh nyontek gak belom nih PR Inggris enggak ngerti tahu.” Pintanya sambil mencari-cari buku tersebut. “Belum,aku aja belum ngerjain santai aja.” jawabku sedikit berbohong dan tersenyum.

                                                ***

Tempat pada hari Kamis dimana hari para siswa/i senang karena mereka pulang sekolah tidak terlalu sore,aku teman-teman lainnya merencanakan untuk pergi kesuatu tempat, saat menuju ke gerbang sekolah aku melihat sosok pria yang bertemu denganku dikantin beberapa hari yang lalu,pria tersebut memandangku dengan senyum dan akupun membalasnya ketika aku memandanginya sambil berjalan tiba-tiba “Bruukk” tanpa disadari aku menabrak kaca lobby. Lalu ada seorang guru yang melewatiku tepat dibelakangku dan dia pun berkata “Hati-hati, lain kali kalau jalan jangan sambil melamun yah.” Jawab beliau dengan nada terkejut. Aku pun menjawab “Iya bu terimakasih.” jawabku dengan malu. Kemudian aku melanjutkan perjalanan dengan temanku.

***

Malam pun tiba, akudan Pebri pergi ke Cafe Mango untuk mengerjakan PR Matematika. Sesampainya di Cafe Mango aku dan Pebri duduk dimeja dekat kaca dan memesan beberapa makanan dan minuman.

“Mas, mau pesen Mango Coconut sama Nasi Gorengnya yah, kalau kamu mau pesen apa peb?.” Tanyaku kepada pebri.

“Nasi goreng sama Mango Original aja deh.” Jawab Pebri.

Setelah memesan makanan dan minuman kami pun membuka buku yang telah disiapkan. Beberapa menit kemudian makanan dan minuman yang sudah dipesan tadi pun datang, kami pun langsung berhenti sejenak untuk makan malam.

“Wid, liat deh itu bukannya Revan yang anak Ipa 3 itu yah bukan sih?.” Tanya Pebri saat dia melihat pria tersebut yaitu Revan Mahardika anak kelas 11 Ipa 3,jago main Basket dan dia juga hebat dalam bidang Akademik.

“Mana? Iya Peb bener itu Revan mau ngapain dia kesini malam-malam?.” Tanyaku penasaran.

“Gak tau, mungkin Revan mau bertemu seseorang.” Jawab Pebri dengan nada sedikit menggodaku.

“Oh, yaudah yuk pulang.”Jawabku sedikit cemburu, seketika mood belajarku hilang begitu saja. Tanpa berkata apapun Pebri langsung bergegas untuk membereskan semua barang yang ada di atas meja dan pergi meninggalkan Cafe tersebut.

          ***

Di pagi yang cerah ini, seperti biasa aku berangkat sekolah. Setibanya aku disekolah aku melihat dia yang sedang duduk dipinggir lapangan basket, entahlah kenapa dia lebih memilih duduk ditempat itu sendirian. Aku pun langsung pergi ke kelas tidak menghiraukannya, setelah sampai dikelas terlihat jelas ruangan sangatlah sepi yah karena itu aku datang kesekolah terlalu pagi dan tidak sempat sarapan aku pun bergegas untuk ke kantin membeli sarapan. Saat dijalan aku melihat dia masih tenang duduk dipinggir lapangan sambil mendengarkan lagu, aku pun berjalan melewatinya dan tanpa sengaja aku tersandung batu kecil dan aku jatuh tepat di hadapannya sontak itu membuatnya terkejut dan langsung mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri tanpa bicara sedikit kata aku langsung mengulurkan tanganku dengan ragu.“Jangan takut aku disini bantuin kamu, kamu gapapa kan? Gak ada yang terlukakan? Lain kali kalau jalan hati-hati yah.” Ucap Revan dengan menatapku dan tersenyum. “Makasih banyak yah udah mau bantuin aku.” jawabku dengan gugup.

“Kamu itu lucu yah,hahaha.” dia pun tertawa saat melihat tingkahku yang seperti ini. Aku pun langsung pergi meninggalkannya tanpa melihatnya dan berkata apapun. “HATI-HATI NANTI JATUH LAGI!” teriaknya kepadaku tetapi aku tidak menghiraukannya karena aku sangat malu.  Akupun sudah sampai dikantin dengan tergesa-gesa,langsung saja aku memesan Nasi Uduk karena aku sudah sangat lapar sekali, saat aku sedang makan tiba-tiba Vicky,Rully,Pebri,Putri datang dengan mengagetkanku dari belakang dan itu membuatku tersedak. Mereka selalu saja seperti itu tapi beda halnya dengan Putri dia sangat perhatian denganku karena dia adalah temanku yang sangat pendiam.  “Eh tadi aku liat kamu jatuh di depan si anak Ipa itu yah.” tanya Pebri penasaran.

“Iya aku tadi jatuh di depan dia tapi itu bener-bener jatuh ko gak ada niatan juga buat dibuat-buat.” jawabku dengan sedikit malu karena mereka sudah tahu kalau aku jatuh di depannya. “inget yah wid, kalau kamu jatuh cinta itu harus siap dengan patah hati.” Jelas Pebri

“Hmmm, apa sih Peb siapa yang jatuh cinta coba.” Jawabku berbohong.Pebri pun tertawa sedikit saat dia melihat ke arahku dan akupun melanjutkan sarapanku. Selesai aku sarapan aku dan teman-temanku pergi ke kelas. Setelah sampai dikelas bel telah berbunyi itu menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai, saat itu guru Matematika masuk dengan tepat waktu tetapi entah mengapa aku memikirkan kata-kata yang diucapkan Pebri saat dikantin. Pelajaran pun akan segera berhenti karena waktu telah menunjukan pukul 10.00 dan bel pun berbunyi, teman-temanku mengajakku untuk kekantin tetapi aku sedang tidak ada sedikitpun Mood untuk pergi ke kantin.

***

Pukul 15.00 aku melihat seseorang yang sedang berdiri di dekat danau,aku merasa orang itu sedang menunggu seseorang yang sudah mempunyai janji dengannya dan saat itu pun aku sedang berada di dekat danau itu, akan tetapi aku melihat sosok seorang pria yang sedang menunggu di danau tersebut mirip dengan Revan namun aku ragu apakah itu Revan atau hanya mirip saja dengannya, kalau memang benar Revan untuk apa dia datang ketempat ini dan sedang menunggu siapakah dia. Apakah itu Revan? Tetapi sedang menunggu siapakah dia? Ucap batinku.  Tak lama kemudian datanglah perempuan yang menghampiri Revandan sambil menutup mata Revan sepertinya perempuan tersebut ingin memberikan kejutan kepada Revan. Seketika hatiku membara ketika melihat perempuan tersebut memegang tangan Revan dengan erat dan penuh kegembiraan yang tak terduga, ketika saat itu tanpa sadar air mataku mengalir begitu deras dan hatiku terasa tercabik-cabik tak karuan rasanya aku ingin berlari kehadapan mereka dan menepiskan tangan perempuan itu dari pergelangan tangan Revan. Lalu aku pun berlari meninggalkan tempat itu dan ketika aku ingin berlari lebih kencang lagi hujan turun dengan sangat deras dan itu membuatku sangat tenang karena ketika hujan turun itu membuatku merasa agar semua orang tidak akan melihat aku menangis. Akupun mengingat kembali kata-kata Pebri “Kalau kamu jatuh cinta,kamu juga harus siap dengan patah hati” kata-kata Pebri masih ku ingat sampai kapanpun

“Benar kata Pebri kalau aku jatuh cinta akupun harus siap dengan patah hati”. Ucapku pada diriku sendiri. Setelah itu akupun kembali pulang dan sesampainya aku dirumah aku melihat Vicky,Rully,Alpin,Silvia,Pebri,Rossi sudah dirumahku menunggu kedatanganku.

“Wid,kemana aja sih aku telponin gak diangkat-angkat, jangan bikin kita khawatir sama keadaan kamu.” Tanya Vicky dengan sangat khawatir.

“Kita?? Kamu aja kali Vik yang dari tadi cemas banget nanyain kabar Widya, udah mah maksa buat hujan-hujanan nyariin Widya.” Tegas Pebri dengan sedikit candaan. Akupun tersenyum dan sedikit

tertawa melihat tingkah temanku yang ternyata masih sangat sayang dan peduli denganku. “Gak kemana-mana ko, aku bakalan baik-baik aja.” Ucapku dengan sedikit berbohong.  “Tuhh Vik gapapa kan Widyanya, jadi tenang aja yah Vicky.” Ledek Pebri kepada Vicky. Dan detik itu akupun tidak memikirkan masalah yang aku hadapi hari ini karena semua masalah hanyalah membuatku tidak bisa berpikir jernih.

***

Senin pagi setiap dua minggu sekali disekolah kami mengadakan upacara kebetulan hari Senin ini upacara, saat itu yang menjadi petugas kelas XI IPA 3, iya lebih tepatnya kelas Revan, entah takdir atau hanya kebetulan saat upacara dimulai Revan mendapatkan kesempatan menjadi Pemimpin upacara dan aku baris paling pertama. Ketika beberapa menit kemudia uapacara dimulai pembawa acara pun sudah memulai membacakan teks upacara tersebut dan tiba saatnya pemimpin upacara memasuki lapangan upacara saat aku melihat Revan memasuki lapangan tiba-tiba Revan pun mengedipkan matanya kepadaku dan senyum sontak akupun terkejut dan membalasnya dengan senyuman, tanpa sadar Vicky memperhatikan kami berdua lalu Vicky, kemudian Vicky menyenggol lengan kananku dengan perlahan. Upacara telah selesai kemudian aku dan teman-temanku pergi ke kantin untuk membeli minuman tanpa sengaja aku bertemu Revan di kantin dan dia pun berkata

“Widya ya?”Ucap Revan kepadaku. Sontak akupun mengangguk dan tersenyum.

“Wid, aku sama teman-teman duluan yah, yuk teman-teman.” Kata Pebri sambil menarik tangan Silvia lalu teman-teman yang lain mengikutinya. “Ada apa yah Van?” Tanyaku penasaran. Lalu Revan mengajaku duduk di kursi taman dekat lapangan bola basket.

“Kemarin aku liat kamu di taman sambil menangis, apa kamu cemburu lihat aku dengan Tasya mesra di taman? “Iya nama perempuan yang kemarin aku lihat bersama Revan adalah Tasya Amelia dia juga teman sekelas Revan tetapi orang tuanya sangat memanjakannya karena dia mengidam penyakit Kanker otak yang sudah stadium 4 yah kemungkinan umurnya tidak akan lama lagi.  “Tasya? Dia itu pacar kamu kan?” Tanyaku ragu.

“Hmm iya, tapi aku melakukan itu untuk membuat dia bahagia karena umurnya tak akan lama lagi, dia mengidam penyakit kanker otak dan sudah stadium 4, sebenarnya aku suka dengan orang lain tapi bagaimana dengan Tasya. Aku diamanahkan untuk menjaganya dan agar tetap membuat dia bahagia.” Jawabnya dengan sedikit sedih ketika menatapku.  

“Tak apa Van, aku mengerti bagaimana keadaanmu saat ini, mungkin dengan begini kamu akan merasa lebih baik.” Jelasku kepada Revan agar dia tidak sedih lagi. “Yaudah kalau kaya gitu, aku balik ke kelas lagi yah maaf yah.” Ucap Revan kepadaku. Akupun mengangguk sambil tersenyum kepadanya dan langsung kembali ke kelas.

***

Selasa pagi dikelasku suasananya sedang tidak ada guru, lalu Pebri menghampiriku dan bertanya. “Wid, kemarin Revan ngomong apa sama kamu sampai-sampai kamu diem aja sampai pulang sekolah?” Tanya Pebri penasaran. “Benar Peb kata kamu waktu itu kepadaku, jika aku jatuh cinta aku juga harus siap dengan patah hati, dan kemarin aku mengalaminya.” Jawabku kepada Pebri, lalu Pebri menenangkanku dan dia berkata. “Pulang sekolah ke StarBucks aja yuk, mau gak?” Tanya Pebri kepadaku.

“Yaudah yuk kesana.” Jawabku kepada Pebri. Mungkin ini yang terbaik untuk menghilangkan sedikit rasa penatku dan masalah yang selalu menghantuiku. Setelah sampai di StarBucks aku dan Pebri memesan sebuah minuman yaitu kopi lalu aku menjelaskan semua yang aku lewati kemarin.

“Yaudah mungkin dengan kamu melepaskannya dan merelakan dia bahaya dengan pilihannya kamu akan merasa lebih baik lagi, ingat pesanku jika kamu jatuh cinta kamu juga harus siap dengan patah hati, jadi jangan bersedih aku masih ada disini dan yang lainnya juga kamu masih punya kami. Aku dan teman-teman akan selalu ada disampingmu.” Jelas Pebri kepadaku tetapi tanpa aku sadari setelah Pebri mengucapkan kata-kata tersebut tetesan demi tetesan air mata mulai menderasi pipi Pebri dan juga Pebri menatapku dengan penuh ketulusan seakan dia meyakinkan sesuatu yang telah dia katakan sekarang kepadaku agar aku tetap tenang dan bahagia walau masalahku sedikit rumit aku hadapi sendiri.

“Makasih yah, Peb walau teman-teman yang lain gak ikut tapi makasih atas semuanya kamu memang sahabat aku yang selalu buat aku bahagia. Makasih yah Pebri.” Aku pun langsung memeluk Pebri dengan penuh ketulusan dan tanpa sadar air mataku mengalir deras seperti hujan yang sedang menghujani seluruh dunia dengan derasnya hingga semuanya basah.

        ***

Hari itu seperti biasanya aku bangun tidur langsung berangkat menuju sekolah, hari-hariku indah jika semuanya aku lewati bersama-sama dengan sahabat-sahabatku yang selalu ada untukku dan menjadi teman hidupku selamanya.


Komentar